Alasan Banjir Besar Melanda Jabodetabek, Siklus 5 Tahunan? - Cela Blogger

Hot

Post Top Ad

Your Ad Spot

Senin, 20 Januari 2020

Alasan Banjir Besar Melanda Jabodetabek, Siklus 5 Tahunan?


Alasan Banjir Besar Melanda Jabodetabek, Siklus 5 Tahunan?
Banjir kembali melanda wilayah Jabodetabek untuk pertama kalinya di tahun ini. Tepatnya pada 2 Januari 2020, banjir dan longsor yang terjadi menyebabkan setidaknya 26 orang meninggal dan lebih dari 62 ribu orang mengungsi.

Banyaknya korban yang berjatuhan akibat bencana tersebut dikarenakan tidak adanya antisipasi atau himbauan sebelumnya. Ditambah lagi, banjir besar ini tidak termasuk dalam siklus 5 tahunan yang sudah biasa menyambangi wilayah tersebut dalam 5 tahun sekali.

Siklus Hujan Penyebab Banjir 5 Tahunan

Menjadi warga Indonesia, telinga Kita serasa sudah tidak asing lagi jika mendengar kabar Jabodetabek mengalami banjir di setiap tahunnya. Banyak alasan yang menyebabkan banjir tersebut muncul dan menyebabkan bencana. Salah satunya adalah kelalaian warga dalam membuang sampah di sungai hingga faktor alam seperti hujan deras yang tak kunjung reda.

Intensitas hujan tersebutlah yang turut menyebabkan potensi bencana banjir berubah setiap tahunnya. Lalu bagaimana dengan siklus banjir 5 tahunan?

Mitos Jabodetabek akan direndam banjir dengan intensitas besar setiap 5 tahun sekali dibuktikan dengan beberapa data tentang banjir besar yang sudah melanda. Sebut saja di tahun 2007, 20013, dan 2018. Tapi tetap saja, semuanya bergantung pada intensitas hujan yang turun. Sehingga bisa disimpulkan bahwa banjir yang terjadi awal tahun ini bukanlah siklus 5 tahunan.

Fakta Banjir Banjir 2 Januari 2020

Menyikapi banjir besar yang terjadi di awal tahun ini, Kami telah merangkum beberapa fakta dan penyebab dari banjir besar di Jabodetabek tersebut. Berikut ini adalah detailnya:

1.       Curah Hujan Ekstrim
Berdasarkan catatan dari BNPB atau yang juga biasa disebut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, curah hujan yang melanda wilayah Jabodetabek termasuk salah satu yang terekstrim dibandingkan dengan curah hujan pada tahun 1996 lalu. Tercatat curah hujan di tahun 1996 sebesar 216 mm/ hari. Sedangkan untuk tahun ini mencapai 377 mm/ hari.

2.       Normalisasi Sungai yang Terhenti
Salah satu penyebab dari banjir besar tiap tahunnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya ialah belum optimalnya pembangunan prasarana untuk penanggulangan banjir, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau yang sering disingkat PUPR.

Disebutkan juga bahwa sejak tahun 2017, pihak pemerintah dan yang bersangkutan masih belum mampu normalisasi pada empat sungai sebagai akibat karena adanya kendala pembebasan lahan dari masyarakat yang tidak kooperatif. Keempat sungai tersebut antara lain ialah sungai krukut, sungai sunter, sungai cakung, dan sungai ciliwung.

Tidak heran jika kemudian wilayah sekitar empat sungai tersebut harus menanggung dampak banjir terparah di area DKI Jakarta.

3.       Kurangnya Lahan Basah
Kota Jakarta juga dikenal sebagai salah satu kota dengan pembangunan terbesar di Indonesia. Banyaknya bangunan tinggi hingga hilangnya lahan hijau menjadi bukti dari stigma tersebut. Jangankan untuk sawah, rawa, ruang terbuka hijau, hingga hutan bakau, untuk pohon yang berjejer saja sudah sulit untuk ditemukan di kota tersebut.

Pembangunan pemukiman dengan skala membludak dan pembangunan ilegal di tempat yang seharusnya tidak digunakan menjadi pemukiman juga menjadi faktor hilangnya lahan basah di Jakarta. Dari keterbatasan lahan basah tersebut jugalah yang kemudian meningkatkan potensi terjadinya banjir setiap tahunnya.

Banjir tahun ini bisa dipastikan bukanlah siklus banjir 5 tahunan. Melainkan karena siklus hujan yang tinggi dan ditambah dengan ketidak siapan dari wilayah Jakarta untuk menerima terpaan air hujan berjumlah besar tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot